OH GITU, SERANG – Gubernur Banten, Andra Soni, menunjukkan bahwa kerja sama adalah segalanya—terutama ketika melawan musuh nomor satu masyarakat yang terlalu bebas: narkoba. Dalam pertemuan dramatis ala film kolosal di Gedung Negara Provinsi Banten, beliau menerima kunjungan dari Kepala BNN Provinsi Banten Brigjen Pol Rohmad Nursahid. Misi utama? Menyulap Banten menjadi provinsi Bersinar alias Bersih Narkoba. Tentu saja bukan dengan sapu, tapi dengan koordinasi dan kolaborasi tingkat dewa.
“Kita akan terus berkoordinasi dengan seluruh stakeholder,” ujar Gubernur dengan penuh optimisme, karena tentu saja koordinasi itu lebih penting daripada tindakan nyata. Lagi pula, semakin banyak rapat, semakin sedikit waktu untuk narkoba berkembang.
Andra juga mengingatkan pentingnya berdoa. Karena selain kerja keras dan anggaran, doa kolektif dianggap sebagai senjata pamungkas dalam memberantas jaringan narkotika internasional. Tentu saja, kartel narkoba pasti gemetar saat mendengar masyarakat Banten bersiap menggelar doa bersama.
Agenda lain yang tidak kalah spektakuler adalah rencana peringatan Hari Anti Narkoba Internasional (HANI). Banten akan merayakannya bukan di stadion atau gedung megah, tapi… di Desa Tambakbaya, Kecamatan Bayah. Langkah brilian ini membuktikan bahwa revolusi sosial bisa dimulai dari desa—selama ada panggung dan mikrofon.
“Kita akan kolaborasi dengan perangkat desa,” kata Andra lagi, seolah perangkat desa adalah senjata rahasia dalam perang melawan zat adiktif. Langkah ini dianggap sangat strategis, karena diketahui bahwa narkoba sering gentayangan lebih takut pada RT/RW daripada pada aparat penegak hukum.
Brigjen Rohmad juga mengungkap fakta yang agak kontra-produktif. Meski semua pihak bekerja keras untuk membersihkan Banten dari narkoba, wilayah ini masih dikategorikan “cukup rawan”.
“Cukup rawan,” katanya, dengan nada santai, seolah sedang membicarakan cuaca mendung.
Menurutnya, posisi geografis Banten adalah mimpi basah para penyelundup narkoba: punya pelabuhan Merak, dekat Bandara Soekarno-Hatta, dan berbatasan dengan dua provinsi sibuk. Bahkan beberapa kartel diduga sudah menyimpan Banten sebagai favorit di Google Maps.
Namun jangan khawatir—karena launching program “Ayo Ajak Masyarakat Bergerak Menuju Banten Bersih Narkoba” sedang disiapkan. Ya, betul, dengan kata kunci “mengajak”. Karena tentu saja, kalau bisa diselesaikan dengan ajakan, mengapa harus dengan penegakan hukum?
Banten kini sedang bersinar, bukan karena lampu sorot prestasi nasional, melainkan karena doa bersama, rapat maraton, dan desa-desa yang jadi panggung utama kampanye antinarkoba. Sementara para penyelundup terus melaju dengan kapal cepat dan akses bandara, para stakeholder siap melawan… dengan kolaborasi.
Tulisan ini adalah esai ringan berbasis fakta nyata. Segala bumbu berlebihan atau skenario absurd di dalamnya bersifat fiktif dan dimaksudkan sebagai kritik sosial.
Kami juga menerima hak jawab dan koreksi berita sesuai dengan etika jurnalistik.