OH GITU KOTA SERANG – Pemerintah Kota Serang punya rencana serius—dan seperti biasa, terbungkus jargon manis—untuk memindahkan Puskesmas Unyur ke tempat yang katanya lebih layak. Karena, menurut Walikota Serang Budi Rustandi, puskesmas lama sudah tidak memadai.
Maklum, bangunannya sempit, lahannya mepet, dan katanya sulit dikembangkan. Alias: sudah masuk usia pensiun sebagai tempat orang berobat.
“Lokasi sebelumnya sudah tidak layak. Lahannya terbatas dan sulit dikembangkan. Kami ingin masyarakat mendapatkan pelayanan kesehatan yang lebih baik di tempat yang lebih luas,” ujar Pak Wali, penuh semangat Sabtu kemarin.
Rencana relokasi ini menargetkan area baru di Perumahan Banten Indah Permai (BIP). Lokasi yang terdengar lebih elit—setidaknya dari namanya—meski belum tentu lebih dekat dari warga yang selama ini numpang sehat di Puskesmas Unyur.
Dalam pernyataan lanjutan, Budi bilang bahwa gedung baru nanti bukan sekadar ganti kulit, tapi naik level jadi “Puskesmas Induk”. Ya, semacam superhero-nya puskesmas biasa.
“Hal ini sekaligus menjawab kebutuhan akan pelayanan kesehatan yang terus berkembang di kawasan ini,” lanjut Budi, dengan gaya khas pejabat yang tampaknya selalu berbicara dalam bentuk rencana lima tahun.
Tentu kita sepakat, bahwa tempat pelayanan kesehatan harus nyaman, luas, dan manusiawi. Tapi, satu pertanyaan kecil: kenapa baru sekarang terasa sempitnya? Atau jangan-jangan, gedung sempit itu selama ini hanya terasa kecil ketika difoto buat laporan?
Dan soal “puskesmas induk”, kita harap bukan sekadar ganti plang nama dan penambahan AC, tapi juga ada peningkatan layanan: dari dokter yang standby, obat yang tak habis, sampai kursi tunggu yang tak bikin punggung menjerit.
Ah, relokasi memang mudah diucap, tapi kadang lupa bahwa yang perlu dipindahkan dulu bukan bangunan, tapi cara pikir: bahwa kesehatan rakyat bukan proyek estetika.
Kalau boleh usul, sebelum puskesmasnya dipindah, semoga sistem antreannya ikut direformasi. Soalnya, kalau tempat baru tapi keluhan lama masih nongol—ya sama aja. Gedungnya naik kasta, pelayanannya tetap jelata.
Tulisan ini adalah esai ringan berbasis fakta nyata. Segala bumbu berlebihan atau skenario absurd di dalamnya bersifat fiktif dan dimaksudkan sebagai kritik sosial.
Kami juga menerima hak jawab dan koreksi berita sesuai dengan etika jurnalistik.