LebakBantenPariwisata

Lebak Banten: Surga Alam, Budaya Baduy, dan UMKM yang Bikin Kagum

×

Lebak Banten: Surga Alam, Budaya Baduy, dan UMKM yang Bikin Kagum

Sebarkan artikel ini
provinsi-banten-sejarah-wisata-ekonomi
Ilustrasi kartun 3D Banten: Keraton, Pantai Anyer, dan kawasan industri, lengkap dengan badak Jawa dan logo provinsi.

OH GITU LEBAK – Pernah ngebayangin hidup tanpa sinyal, sabun, atau bahkan sandal? Di saat kita ribut soal upgrade Wi-Fi dan skincare, ada satu tempat di ujung Banten sana yang justru bangga hidup “jadul”—dan tetap bahagia. Selamat datang di Lebak, rumah dari Suku Baduy, surga curug, dan opak ketan yang bisa bikin saldo ShopeePay auto tekor.

Baduy: Manusia Masa Kini dengan Upgrade Hidup Masa Lalu

Kalau di dunia Marvel ada Wakanda yang tersembunyi, Lebak punya Baduy Dalam—versi lokal yang lebih eco-friendly dan tanpa CGI. Mereka hidup tanpa teknologi, tanpa kendaraan, bahkan tanpa alas kaki. Nggak karena miskin, tapi karena prinsip. Mereka ogah nginjek bumi pakai sol karet, katanya sih buat menjaga alam dan tradisi. Kita? Pakai crocs aja udah ngerasa keren.

Lucunya, mereka jalan kaki rame-rame, yang tua jalan di depan, yang muda ngikut. Filosofinya? Taat aturan dan hormat sama yang dituakan. Kita mah jalan bareng aja masih rebutan tempat duduk di KRL.

Prinsip mereka sederhana tapi dalam: gunung jangan dihancurkan, sawah jangan dirusak. Mereka nggak pakai sabun, pasta gigi, apalagi pestisida. Jadi, kalau ada yang bilang “hidup bersih itu mahal,” coba main ke Baduy.

Liburan ke Lebak: Sinyal Hilang, Tenang Datang

Nah, kalau lo lagi burnout, Lebak bisa jadi tempat healing yang bukan gimmick TikTok. Di Gunung Luhur, lo bisa ngerasain sensasi berdiri di atas awan—literally. Lokasinya di Cibeber, dan pemandangannya kayak screensaver Windows tapi real life. Harga tiket cuma Rp5.000, lebih murah dari parkir Indomaret.

Masih kurang? Tenang, Lebak punya koleksi curug kece yang bisa bikin lo lupa sama deadline:

  • Curug Cikeris: Lokasi cipanas, 10 km dari Rangkasbitung. Tapi lo harus trekking dulu 1 km—anggap aja cardio gratis.
  • Curug Kanteh: Tingginya 80 meter, punya tiga kolam. Namanya dari “benang putih” karena airnya jernih terus, bahkan di musim kemarau.
  • Curug Munding: Dibilang permata tersembunyi, cocok buat lo yang suka tantangan. Medannya rada berat, tapi worth it.
  • Curug Ciporolak: Airnya adem, bunyinya khas karena batu-batu kecil kegulung arus. Tiket Rp20.000. Worth every cent.

Kalau air dingin bukan selera lo, bisa mampir ke Pemandian Air Panas Tirta Lebak Buana. Buka 24 jam, cocok buat yang lagi cari tempat mikir masa depan jam 2 pagi.

Perjalanan Menuju Lebak: Dulu Jauh, Sekarang Cuma Sejauh Niat

Dulu ke Lebak kayak naik ke langit ketujuh, tapi sekarang tinggal 3 jam aja dari Jakarta. Lebih cepat dari nungguin teman nongkrong yang bilang “otw.” Dari Jakarta ke Rangkasbitung bisa naik kereta. Lanjut ke Cibeber via Cipanas-Lebak Gedong-Citorek.

Jalannya udah lumayan sip, walaupun belum full aspal. Pemerintah juga lagi ngebut bangun jalan baru sepanjang 12 km biar akses makin mulus. Dan yang bikin hati adem: ada masjid baru yang lagi dibangun di Negeri di Atas Awan pakai dana Rp6 miliar. MasyaAllah.

UMKM Lebak: Dari Opak Jadi Ompong, Eh Maksudnya Untung!

Ekonomi Lebak tuh nggak main-main. UMKM di sini ada 72 ribuan, dan omsetnya bisa nyentuh miliaran. Ada yang jual opak, ada yang jual jojorong, ada juga yang jual kopi yang rasanya mantul.

Bu Fitri, pedagang makanan tradisional, bilang bisa dapet Rp150–250 ribu per hari. Kalau lagi hari raya, bisa cuan sampe Rp15 juta. Gaji UMR? Lewat, bos!

Produk andalannya? Opak ketan, ranginang, bolu ketan, peyem, dan masih banyak lagi. Bahkan anyaman bambu dari Kampung Narimbang udah sampai Jakarta dan Kalimantan. Dan jangan lupakan kopi Lebak—jenis robusta yang katanya pernah berjaya di zaman kolonial. Mungkin dulu dijual ke Belanda, sekarang ke Shopee.

Festival kopi pun digelar, dan kafenya udah banyak: dari Deum Dee Cafe sampe Lembayung. Ngopi sambil liat hutan? Bisa. Ngopi sambil mikirin mantan? Boleh juga.

Lebak Bukan Cuma Tempat Liburan, Tapi Gaya Hidup Alternatif

Di tengah dunia yang makin ngebut, Lebak ngajarin kita untuk pelan-pelan. Hidup itu bukan lomba, bro. Kadang yang paling damai justru yang paling “jadul.” Suku Baduy buktiin bahwa hidup sederhana bisa bikin bahagia, asal konsisten dan niat.

Pemerintah juga nggak tinggal diam. Dari pembangunan jalan, pelatihan UMKM, sampai event budaya udah disiapin semua. Bahkan ada Lebak Run 10K dan Festival Ruwat Bumi buat lo yang mau lari atau nyari jodoh (eh, salah fokus).

Jadi… kapan mau cabut dari keramaian dan mampir ke Lebak? Bukan cuma buat liburan, tapi buat cari arti hidup yang sebenarnya. Wi-Fi lemot? Ganti aja sama sinyal ketenangan jiwa.

Disclaimer:
Tulisan ini adalah esai ringan berbasis fakta nyata. Segala bumbu berlebihan atau skenario absurd di dalamnya bersifat fiktif dan dimaksudkan sebagai kritik sosial.

Kami juga menerima hak jawab dan koreksi berita sesuai dengan etika jurnalistik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *