OH GITU – Banten itu kayak orang yang badannya kecil tapi omongannya berat. Wilayahnya cuma 8.651 km², tapi isinya padat sejarah, industri, budaya, dan… badak. Iya, Badak Jawa! Provinsi ini punya semuanya: dari keraton tua sampai kawasan industri, dari pantai eksotis sampai obrolan startup di Tangsel.
Kalau lo belum pernah nyasar ke Kabupaten Pandeglang atau mampir ngopi di Kota Cilegon, berarti lo belum kenal Banten beneran.
Sejarah Banten: Dari Sultan Sampai Jalan Daendels
Sultan Ageng Tirtayasa: Era Kejayaan Banten Lama
Banten pernah jadi pusat perdagangan internasional loh, bro. Pelabuhannya rame banget di masa Sultan Ageng Tirtayasa. Kapal dari Arab, India, dan Cina silih berganti kayak ojek online di jam sibuk. Banten Lama dan Masjid Agung Banten sekarang jadi saksi sejarah kejayaan itu.
“Pelabuhan kami dulu ramai sekali,” kata sejarawan lokal sambil nunjuk reruntuhan Keraton Surosowan.
Daendels dan Jalan Raya Pos
Kalau lo lagi scroll Instagram dan nemu mercusuar di Anyer, itu bukan cuma spot OOTD. Dulu itu bagian dari megaproyek Jalan Raya Pos dari Anyer ke Panarukan. Zaman itu, Daendels kayak influencer infrastruktur—tanpa TikTok, tapi hasilnya awet sampe sekarang.
Banten Hari Ini: Antara Serang Raya dan Tangerang Raya
Serang Raya: Rumah Gubernur dan Sejuta Dinamika
Di Kota Serang dan Kabupaten Serang, lo bisa nemuin dua vibe sekaligus: pemerintahan dan sejarah. Kerajaan lama, kantor gubernur, sampai pasar rakyat bisa lo temuin dalam satu radius go-food. Gimana nggak keren?
Tangerang Raya: Antara Industri dan Ngopi Oatmilk
Tangerang dan Tangsel udah kayak Silicon Valley versi lokal. Di sana, lo bisa nemuin pabrik baja, mal gede, universitas internasional, sampai coworking space dengan pencahayaan natural. Mau kerja keras atau diskusi filsafat? Terserah mood lo aja.
Cilegon: Kota Baja yang Tetap Ramah Nongkrong
Cilegon dikenal sebagai kota industri, tapi jangan salah, nongkrong di sini juga bisa seru. Ada tempat ngopi estetik sampai festival rakyat yang nggak kalah rame sama weekend di Senayan Park.
Alam dan Pariwisata: Healing Sambil Belajar Sejarah
Selatan Banten: Lebak dan Pandeglang, Zona Hijau Tanpa Drama
Lebak dan Pandeglang adalah tempat buat lo yang pengen lepas dari notifikasi grup WA. Hutan lindung, bukit hijau, udara sejuk, dan—tentu saja—Taman Nasional Ujung Kulon yang jadi rumahnya Badak Jawa.
Wisata Pantai: Dari Anyer sampai Sawarna
Lo suka pantai? Banten punya belt pantai keren: Anyer, Carita, Sawarna, sampai Tanjung Lesung. Mau sunrise, sunset, atau siluet Gunung Krakatau? Tinggal pilih spot!
Infrastruktur Wisata: Tol, Bandara, dan Mimpi Jembatan
Dari tol Jakarta-Merak sampai Serang–Panimbang, akses ke pantai atau kota industri jadi gampang banget. Bandara Soetta aja masuk wilayah Banten, bro. Plus, wacana Jembatan Selat Sunda masih jadi doa bersama tiap musim pemilu. Kalau jadi, healing lo bisa lanjut ke Sumatera.
Ekonomi Banten: Tumbuh dari Sawah dan Pabrik
Banten tuh kayak chef multitalenta—bisa masak nasi liwet sambil presentasi PowerPoint. Dari sawah di Lebak sampai pabrik di Cilegon, semuanya jalan bareng. Tahun 2007 aja, APBD Banten naik pesat sampe peringkat 4 nasional.
Ulang Tahun Banten: Bukan Sekadar Potong Kue
Tiap 4 Oktober, warga Banten merayakan hari jadi provinsinya. Tapi ini bukan sekadar upacara bendera. Ini momen mengenang perjuangan panjang: dari keinginan mandiri sejak kolonial sampai akhirnya berdiri sendiri di 2000.
Jadi lain kali lo lewatin Tol Merak dan liat plang “Selamat Datang di Banten”, jangan cuma lewat. Berhenti, seruput kopi robusta lokal, dan rasakan detak provinsi yang terus ngasah dirinya.
Baca juga:
Untuk kamu yang ingin menyelami lebih dalam tiap daerah dan tema:
- Kabupaten Lebak: Surga Hijau dan Tradisi Baduy
- Pandeglang: Gerbang ke Ujung Kulon dan Pantai Tersembunyi
- Cilegon: Kota Baja dan Pintu Industri Banten
- Tangerang Raya: Dari Startup Sampai Santri Digital
- Kota Serang & Kabupaten Serang: Sejarah, Pemerintahan, dan Pasar Rakyat
- Pariwisata Banten: Pantai, Gunung, dan Cerita Mistis
Tulisan ini adalah esai ringan berbasis fakta nyata. Segala bumbu berlebihan atau skenario absurd di dalamnya bersifat fiktif dan dimaksudkan sebagai kritik sosial.
Kami juga menerima hak jawab dan koreksi berita sesuai dengan etika jurnalistik.