OH GITU RANGKASBITUNG – Ada satu taman di Rangkasbitung yang akhir-akhir ini kondisinya mirip seperti hubungan yang udah lama nggak diobrolin tapi masih dipertahankan: rusak tapi dibiarkan. Namanya Taman Salahaur, terletak manis di jantung kota, tepatnya di Kampung Salahaur, Kelurahan Cijoro Lebak. Tapi sayang, keadaannya sekarang lebih mirip lokasi syuting film pasca-apokaliptik ketimbang tempat warga healing sore-sore sambil makan cilok.
Kursi taman banyak yang udah patah, berkarat, dan mungkin jadi habitat baru buat koloni rayap atau tikus introvert. Ayunan? Jangan harap. Rantainya putus, dudukannya hilang entah ke mana—kemungkinan besar sudah migrasi ke dimensi lain. Daripada buat main anak, sekarang ayunan itu lebih cocok dijadikan bahan ilustrasi di buku pelajaran “Kenapa Infrastruktur Kita Gagal Total.”
Warga sekitar pun mengelus dada—yang laki-laki dan perempuan sama-sama sepakat: taman ini ditelantarkan kayak mantan yang udah nggak ada kabar tapi masih ada foto di galeri.
“DLH Lebak kayak tutup mata,” ujar Chandra, aktivis lingkungan dan alumni Mapala Kumbila USBR, Sabtu (2/8/2025). Mungkin tutup mata karena silau melihat rumput yang dulunya hijau kini berubah jadi kuning kerontang, kayak dompet tanggal tua.
Chandra bilang, taman ini sebenarnya punya potensi jadi simbol peradaban kota. Tapi ya, kalau simbolnya kayak begini, kita harus jujur pada diri sendiri: peradaban yang dimaksud tuh zaman apa? Zaman batu?
“Kalau ruang terbuka hijau aja nggak dirawat, gimana masyarakat mau belajar peduli lingkungan?” lanjut Chandra. Pertanyaan bagus, Bung. Lebih menusuk dari tagihan listrik yang naiknya tiba-tiba.
Kondisi ini juga bikin Ilham Maulana Raisa, aktivis mahasiswa sekaligus warga lokal, geleng-geleng. Menurut dia, taman bukan cuma tempat nyender saat galau, tapi juga wajah kota. Dan kalau wajahnya bopeng begini, ya jangan kaget kalau turis lokal atau luar daerah memilih destinasi lain. Misalnya, WC umum Terminal Mandala yang setidaknya masih punya atap.
“DLH harus gercep, jangan cuma reaktif pas viral di medsos,” kata Ilham, dengan nada yang bisa kita bayangkan seperti suara hati banyak warga Rangkasbitung. Ia menyarankan perbaikan bukan cuma tambal sulam, tapi harus sistematis dan berkelanjutan. Ya masa iya setiap rusak langsung bikin prasasti baru?
Ilham bahkan menawarkan bantuan dari komunitas. “Asal pemerintah niat, kita siap bantu,” ujarnya. Sebuah tawaran manis yang sayangnya sering nyangkut di meja rapat tanpa follow-up.
Sementara itu, Taman Salahaur tetap menunggu. Menunggu dicat, diperbaiki, atau minimal diberi perhatian. Karena sebesar-besarnya cinta warga terhadap ruang publik, lama-lama bisa luntur juga kalau yang dicintai nggak pernah dirawat.
Tulisan ini adalah esai ringan berbasis fakta nyata. Segala bumbu berlebihan atau skenario absurd di dalamnya bersifat fiktif dan dimaksudkan sebagai kritik sosial.
Kami juga menerima hak jawab dan koreksi berita sesuai dengan etika jurnalistik.