Pandeglang

Konsumsi Ikan di Pandeglang Naik Tajam, Produksi Lele Ikut Terdongkrak

×

Konsumsi Ikan di Pandeglang Naik Tajam, Produksi Lele Ikut Terdongkrak

Sebarkan artikel ini
Konsumsi Ikan di Pandeglang Naik Tajam, Produksi Lele Ikut Terdongkrak - Gambar Artikel

OH GITU, PANDEGLANG – Kabar segar datang dari sektor perikanan Pandeglang. Angka konsumsi ikan di kabupaten ini terus merangkak naik.

Data dari Dinas Perikanan (Diskan) menyebut, saat ini konsumsi ikan masyarakat Pandeglang sudah menyentuh angka 40 kilogram per kapita per tahun. Ini jadi sinyal bagus, karena tinggal sedikit lagi menyamai target daerah yang ditetapkan sebesar 45 kg.

Di Atas Target Provinsi, Hampir Susul Nasional

Angka 40 kg ini disebut sudah melampaui target provinsi. Tapi memang masih harus kerja keras buat nyusul rata-rata nasional yang kini di 62,05 kg per kapita.

Kepala Diskan Pandeglang, Uun Junandar, bilang salah satu kuncinya adalah kampanye “Gemar Ikan” yang mereka gencarkan ke masyarakat, terutama ke anak-anak. Harapannya, generasi muda makin sadar bahwa ikan bukan cuma enak, tapi juga sehat dan penting buat tumbuh kembang.

Produksi Perikanan Juga Meroket

Nggak cuma konsumsi, produksinya juga ikut naik.

Untuk sektor tangkap, tahun 2024 lalu Pandeglang menghasilkan sekitar 32 ribu ton ikan laut. Mulai dari tongkol, kembung, sampai ikan karang, semua ikut nyumbang.

Dari sektor budidaya, ikan lele jadi primadona. Tahun lalu, produksinya naik jadi 30 ribu ton—naik seribu ton dibanding tahun sebelumnya.

Targetnya Jelas: Lebih Banyak Makan Ikan

Diskan berharap tren positif ini terus naik. Selain buat urusan gizi, mereka juga ingin menjadikan ikan sebagai bagian dari ketahanan pangan lokal.

“Ikan itu sehat, murah, dan gampang diolah. Sayang kalau nggak dimaksimalkan,” kata Uun.

Dengan angka konsumsi yang makin mendekati standar nasional, bisa jadi ke depan Pandeglang bukan cuma dikenal dengan wisata alamnya—tapi juga karena warganya makin cinta makan ikan.

Disclaimer:
Tulisan ini adalah esai ringan berbasis fakta nyata. Segala bumbu berlebihan atau skenario absurd di dalamnya bersifat fiktif dan dimaksudkan sebagai kritik sosial.

Kami juga menerima hak jawab dan koreksi berita sesuai dengan etika jurnalistik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *