OH GITU PANDEGLANG – Kalau biasanya sampah di tempat pembuangan akhir cuma jadi tumpukan bau dan pemandangan yang bikin mules, Pandeglang pengen ubah ceritanya. Pemerintah Kabupaten Pandeglang, lewat perusahaan daerahnya PD Pandeglang Berkah Maju (PD PBM), lagi intens ngobrol serius dengan perusahaan teknologi dari Tiongkok buat urusan yang satu ini: mengubah 500 ton sampah jadi bahan bakar.
Iya, benar. Sampah. Jadi. Bahan bakar.
Mesin dari Negeri Tirai Bambu
Menurut Plt Direktur PD PBM, Zaenal Huri, obrolan intensif ini bukan sekadar basa-basi. Ini langkah nyata buat menghadapi masalah sampah yang makin hari makin bikin pusing kepala.
“Untuk mengatasi masalah sampah, saat ini kami tengah menjalin komunikasi intensif dengan salah satu perusahaan penyedia mesin pengolah sampah asal Tiongkok. Untuk melakukan kerja sama pengolahan sampah di TPA Bangkonol,” kata Zaenal, Senin (4/8/2025).
Rencananya, teknologi yang bakal dipakai namanya Solid Recovery Facility alias SRF. Bukan nama band indie baru, tapi sistem canggih yang bisa mengolah sampah jadi Bahan Bakar Jumputan Padat (BBJP)—semacam bahan bakar alternatif yang bisa menggantikan batu bara. Cara kerjanya: sampah dikeringkan, dicacah, terus diproses sampai jadi bahan bakar yang (katanya) efisien.
Nilainya Bukan Main: Rp150 Miliar
Proyek ini nggak main-main. Investasinya diperkirakan tembus angka Rp150 miliar. Dengan SRF, TPA Bangkonol bisa ngolah antara 300 sampai 500 ton sampah setiap hari. Bayangin, yang tadinya numpuk dan ngotorin, bisa berubah jadi duit. Eh, maksudnya: jadi energi terbarukan yang punya nilai ekonomi.
“Kami memohon doa kepada seluruh masyarakat di Kabupaten Pandeglang agar rencana kerjasama ini segera terealisasi dalam waktu dekat ini,” ujar Zaenal, berharap proyek ambisius ini nggak cuma jadi wacana.
Baca juga: Kabupaten Serang Mau Ubah Sampah Jadi Listrik, Lahannya Masih Nego, Truknya 160
Sampah, Tapi Berkelas
Kalau selama ini kita anggap sampah itu barang buangan tanpa masa depan, kayaknya Pandeglang pengen membuktikan sebaliknya. Dengan modal teknologi dari Tiongkok dan niat yang (semoga) nggak setengah hati, mereka pengen bikin TPA Bangkonol jadi mesin penghasil energi, bukan sumber keluhan.
Ya, siapa tahu ke depan kita bisa bilang, “Lihat tuh sampah—eh, bahan bakar masa depan kita.”
Tulisan ini adalah esai ringan berbasis fakta nyata. Segala bumbu berlebihan atau skenario absurd di dalamnya bersifat fiktif dan dimaksudkan sebagai kritik sosial.
Kami juga menerima hak jawab dan koreksi berita sesuai dengan etika jurnalistik.