OH GITU – Merah Putih One for All, sebuah judul yang seharusnya membangkitkan semangat nasionalisme, kini justru jadi pusat perdebatan panas. Film animasi yang digadang-gadang sebagai pionir karya anak bangsa ini mendadak viral, bukan hanya karena niatnya yang mulia, tapi juga karena berbagai kontroversi yang menyelimuti proses produksi dan kualitasnya. Dari trailer yang dinilai “kaku” hingga fakta produksi super singkat, semua aspek film ini seolah menjadi cerminan ambisi besar yang terhalang eksekusi yang tergesa-gesa.
Klaim Film Nasionalis, Tapi Trailer Malah Bikin Netizen Gagap
Studio Perfiki Kreasindo dengan penuh semangat memposisikan Merah Putih: One for All sebagai pionir animasi anak Indonesia bertema kebangsaan. Tagline-nya tegas: nasionalisme sejak dini. Visual marketing-nya tampil percaya diri—poster bergaya komik menampilkan delapan anak dengan elemen khas merah-putih, menyiratkan semangat persatuan dan keberagaman.
Toto Soegriwo, sang produser, menggandeng Yayasan Perfilman H. Usmar Ismail untuk menanamkan nilai sinema Indonesia. Kombinasi ini seolah ingin membangun narasi “animasi idealis tanpa campur tangan asing”—sebuah gerakan budaya yang berdiri di atas kaki sendiri.
Di balik layar, triple role si animator utama, Bintang Takari, patut dicatat: penulis naskah, sutradara, sekaligus animator utama. Publik awalnya salut, menyebutnya sebagai “one-man animation army” yang berani menjawab tantangan industri.
Namun harapan tinggi itu mulai goyah ketika trailer rilis di media sosial. Alih-alih memicu bangga, visualnya memicu bingung.
- Frame per frame terlihat patah dan repetitif
- Desain karakter statis, ekspresi wajah minim artikulasi
- Background terasa generik dan datar, kurang atmosfer sinematik
- Transisi antar adegan membuat netizen bertanya: ini beneran Rp 6,7 miliar?
Analogi pun bermunculan: dari “mirip cutscene game PS2” hingga “tugas akhir anak DKV yang baru ngerti layer masking.” Beberapa komentar menyentil dengan nada satir:
“Trailer-nya bikin gue cinta tanah air… soalnya gue jadi pengen bikin versi sendiri.” — akun X @kacamatapresiden
“Kebangsaan iya, tapi gerakannya kayak film pembinaan Paskibra tahun 2008.” — komentar YouTube channel NontonApa
Apresiasi tetap ada untuk niat dan pesan yang ingin disampaikan, tapi visual yang dianggap belum matang membuat narasi patriotisme seolah tertahan dalam proses rendering. Publik pun mulai memisahkan antara niat dan eksekusi.
Visual Dianggap Kaku, Komentar Netizen: “Ini Tugas DKV?”
Trailer yang tayang justru memicu rentetan reaksi publik yang nggak bisa dianggap angin lalu. Alih-alih visual yang sinematik dan ekspresif, penonton disuguhkan tampilan animasi yang terasa rigid dan kurang bernyawa.
- Gerakan karakter nyaris tanpa momentum—jalan kaki pun terasa seperti slide PowerPoint.
- Ekspresi wajah minim artikulasi, lebih mirip patung lilin dibanding anak SD yang semangat bela negara.
- Komposisi frame tidak konsisten. Kadang overexposed, kadang gelap tak beralasan.
- Sinematografi seperti hasil drag-and-drop di storyboard template gratisan.
Publik pun beramai-ramai melontarkan kritik:
“Visualnya bikin gue kangen tutorial animasi 2D tahun 2010.” — akun X @renderanbangsa
“Mungkin maksudnya ‘nasionalisme dari anak bangsa’… yang baru belajar Blender.” — komentar TikTok @animasiKritik
Beberapa animator profesional bahkan membuat video reaksi di YouTube, membedah frame demi frame. Hasilnya? Dugaan kuat bahwa rigging karakter belum optimal, transisi belum difinalisasi, dan animasi latar seolah diimpor tanpa kontekstualisasi.
Salah satu komentar yang cukup viral:
“Ini bukan cuma masalah gaya visual. Ini soal rasa hormat terhadap medium animasi.” — channel YouTube @KritikKreatif
Publik mulai mempertanyakan: apakah ini benar-benar hasil final, atau sekadar demo yang lolos kurasi karena euforia tema kebangsaan?
Di satu sisi, apresiasi atas niat tetap ada. Tapi di sisi lain, visual adalah bahasa pertama yang menyapa penonton. Dan ketika bahasa itu terasa acak dan kaku, patriotisme pun terasa seperti retorika yang belum sempat disunting.
Sprint Produksi < 1 Bulan, Dugaan Aset Marketplace, Studio Error 403
Di balik semangat 17-an, ada fakta mencengangkan: Merah Putih: One for All diklaim rampung dalam waktu kurang dari 30 hari. Bukan dari fase final, tapi dari produksi utama. Publik pun spontan bergumam, “Ngerjain animasi satu film… kayak kejar UTS jurusan multimedia.”
Tujuannya jelas: tayang tepat waktu untuk perayaan HUT ke-80 RI. Tapi konsekuensinya? Banyak yang melihat hasilnya seperti proyek buru-buru yang lebih mengandalkan semangat daripada proses produksi solid.
YouTuber Yono Jambul, yang terkenal dengan konten bedah visual, mengungkap dugaan penggunaan aset jadi dari marketplace Daz3D—platform global untuk template karakter dan lingkungan 3D. Salah satu yang bikin netizen angkat alis: latar kota yang mirip Mumbai.
“Seriusan nih? Film Indonesia pakai latar India buat jaga bendera Indonesia?” — komentar akun X @mata3d
Temuan ini bikin narasi ‘film kebangsaan dari anak bangsa’ terasa goyah. Publik mulai bertanya:
- Apakah ini bentuk efisiensi atau ketergesaan?
- Apakah aset jadi merusak otentisitas cerita?
- Ataukah ini gaya produksi baru yang belum siap ditelan publik?
Ironi makin tebal ketika website resmi Studio Perfiki Kreasindo tak bisa diakses. Error 403: Forbidden. Bukan sekadar error teknis, tapi dianggap sebagai simbol transparansi yang tertutup rapat. Untuk proyek sebesar ini, absennya informasi resmi dinilai mencurigakan oleh sebagian netizen.
“Film tentang merah putih, tapi studionya kayak bendera dilipat sebelum upacara.” — akun Instagram @satirpress
Kecepatan produksi memang bisa jadi prestasi, tapi tanpa manajemen kualitas dan komunikasi terbuka, proyek idealis bisa berubah jadi bahan kritik masal.
Hanung Bramantyo: “Kok Bisa Tembus Bioskop di Tengah 200 Judul?”
Di tengah ramainya antrean ratusan film lokal dan impor yang menunggu slot layar, Merah Putih: One for All justru berhasil menembus jadwal tayang bioskop. Publik pun ikut bertanya: “Siapa yang buka pintu?”
Sutradara senior Hanung Bramantyo angkat suara lewat akun Instagram. Ia menyebut bahwa kualitas film seharusnya disesuaikan dengan standar tontonan layar lebar. Tanpa segan, ia memperkirakan respons penonton:
“Kalau itu ditayangkan, sudah pasti penonton akan resisten,” tulisnya, Ahad, 10 Agustus 2025.
Tapi bukan cuma soal respons. Hanung menyoroti aspek bujet produksi yang dianggap jauh dari cukup untuk standar animasi bioskop.
- Rata-rata film animasi layar lebar: Rp 30–40 miliar
- Bujet Merah Putih: Rp 6,7 miliar
- Selisihnya? Lebih dari 4 kali lipat.
Analogi khas Hanung pun jadi sorotan netizen:
“Ini beda kelasnya kayak rendang nenek vs rendang instan sachet.” — kutipan Instagram @hanungbramantyo
Pernyataan ini bukan sekadar satir. Ini ajakan berpikir soal kualitas, waktu, tenaga, dan visi jangka panjang sebuah karya. Dengan segala keterbatasan, penonton dianggap layak mendapat tayangan yang diracik dengan kesungguhan, bukan sekadar semangat dadakan.
Komentar Hanung pun memicu diskusi baru:
- Bagaimana proses kurasi film di bioskop sebenarnya berjalan?
- Apakah ada urgensi nasionalisme yang memperbolehkan “kejar tayang” melampaui kualitas teknis?
- Seharusnya film bertema kebangsaan jadi masterpiece, bukan eksperimen terburu-buru.
Cerita Film: Misi Anak-anak Jaga Bendera Pusaka
Plot utama Merah Putih: One for All berpusat pada delapan anak dari berbagai pelosok Nusantara yang tergabung dalam Tim Merah Putih. Mereka bukan superhero—mereka anak-anak biasa dengan cita-cita besar: menjaga dan mengibarkan bendera pusaka saat upacara 17 Agustus di Jakarta.
Latar belakang tiap karakter mencerminkan keragaman Indonesia:
- Ada anak dari Papua yang jago survival di hutan
- Cewek Aceh yang kritis dan jago strategi
- Anak Jawa yang hobi gambar dan jadi pencatat misi
- Si kembar dari Kalimantan yang jago teknologi, dan lain-lain
Konflik dimulai tiga hari sebelum upacara. Bendera pusaka hilang. Bukan dicuri alien, tapi karena kelalaian distribusi dan konflik internal.
Tim pun bergerak. Mereka harus menelusuri jejak, memecahkan teka-teki, dan menghadapi hambatan logistik dan sosial.
Perjalanan mereka membentang dari stasiun tua, pasar malam, hingga gedung pemerintahan. Di tiap tempat, mereka dihadapkan pada pertanyaan: Apa arti merah putih buat generasi sekarang?
Cerita ini menggabungkan:
- Petualangan urban ala Dora the Explorer versi Jakarta
- Dialog sarat nilai kebangsaan yang cocok buat anak dan orang tua
- Musik latar patriotik mix EDM dan gamelan (serius, trailernya gitu)
Di titik klimaks, mereka harus membuat pilihan: menyerah atau improv demi bendera tetap berkibar. Adegan final upacara pun digambarkan dramatis—slow motion pengibaran diiringi suara anak-anak menyanyikan “Indonesia Raya”.
Apakah ceritanya layak ditonton keluarga? Bisa banget, asal eksekusinya nggak bikin penonton jadi ikutan cari bendera digital di Adobe Stock.
Tanggal Tayang dan Duel Bioskop: Merah Putih vs Demon Slayer
Tanggal tayang Merah Putih: One for All ditetapkan pada Kamis, 14 Agustus 2025—momen menjelang perayaan kemerdekaan, yang secara strategis bisa memancing penonton nasionalis. Tapi satu hari setelahnya, Demon Slayer: Infinity Castle Part 1 menyusul tayang.
Publik pun langsung membandingkan:
- Film lokal bertema kebangsaan vs animasi Jepang dengan fandom global
- Budget Rp 6,7 miliar vs bujet puluhan miliar yen
- Tim Merah Putih vs Hashira
Secara genre, jelas berbeda. Tapi dalam logika persaingan bioskop, dua film ini bersaing merebut perhatian penonton dalam momen yang sama.
- Anak SD jaga bendera vs pemburu iblis lawan Muzan
- Seragam merah putih vs haori dan katana
- Nilai patriotik vs nilai persahabatan dan pengorbanan
Netizen pun menyentil:
“Satu ngajak bangga jadi Indonesia, satu ngajak berani mati demi teman. Gue bingung mau nasionalis atau nangis.” — akun X @nontonpanas
Strategi penjadwalan ini mengundang tanya:
- Apakah Merah Putih sengaja ambil risiko demi makna momen 17 Agustus?
- Ataukah kurang perhitungan terhadap dominasi fandom pop Jepang?
Yang jelas, duel ini bukan soal siapa menang di box office, tapi soal bagaimana dua narasi besar bertarung dalam ruang layar: nasionalisme lokal vs mitologi global.
Filmnya Nasionalis, Tapi Netizen Masih Cari Kejelasan
Di atas kertas, Merah Putih: One for All punya semua elemen patriotik: anak-anak dari berbagai daerah, misi jaga bendera, dan semangat 17-an. Tapi setelah publik menyaksikan trailer, membaca klaim produksi, dan mendengar komentar tokoh perfilman, antusiasme berubah jadi serangkaian tanda tanya.
Narasi nasionalisme yang mestinya membakar semangat, malah teralihkan oleh visual yang kaku, durasi produksi super singkat, dan dugaan penggunaan aset jadi. Studio pun terkesan misterius—website tak bisa diakses, dan tidak banyak informasi resmi tersedia. Bagi sebagian penonton, ini bukan lagi soal konten—tapi soal proses di balik layar.
Netizen pun mulai memisahkan “niat baik” dan “hasil akhir” dengan lebih kritis. Dukungan terhadap animasi lokal tetap ada, tapi juga disertai harapan agar proyek serupa di masa depan:
- Punya timeline produksi yang realistis
- Lebih terbuka soal anggaran dan sumber daya
- Melibatkan lebih banyak tenaga profesional agar hasilnya matang
Maka kini, penonton bukan sekadar konsumen hiburan. Mereka juga menjadi juri atas idealisme, eksekusi, dan transparansi.
Filmnya nasionalis, tapi apakah kualitasnya juga pantas dibanggakan?
Pertanyaan inilah yang menggantung di udara 17 Agustus. Kalau lo nonton filmnya—bukan cuma soal suka atau enggak. Tapi soal berani ikut menyuarakan standar karya anak bangsa ke depan.
Tulisan ini adalah esai ringan berbasis fakta nyata. Segala bumbu berlebihan atau skenario absurd di dalamnya bersifat fiktif dan dimaksudkan sebagai kritik sosial.
Kami juga menerima hak jawab dan koreksi berita sesuai dengan etika jurnalistik.