OH GITU KABUPATEN SERANG – Lo pernah mikir nggak, kenapa daerah yang isinya pabrik segede-gede gaban, truk lalu-lalang tiap hari, tapi pemasukannya tetep aja ngos-ngosan kayak abis lari keliling alun-alun? Nah, kayaknya Kabupaten Serang juga lagi mikir hal yang sama, soal Dana Bagi Hasil (DBH) yang katanya dari rakyat, tapi mampirnya ke pusat terus, nggak balik-balik.
Kadang hidup tuh kayak main arisan, giliran setor rajin, pas dapet giliran malah dilewatin. Pemerintah Kabupaten Serang pun akhirnya curhat, ngeluh soal DBH yang “nggak maksimal” — padahal kalau denger suara pabriknya, kita kira daerah ini udah sejahtera banget.
Terus siapa yang disuruh bantu? Ya siapa lagi kalau bukan wakil rakyat di Senayan. Bupati Serang pun ngirim sinyal ke Bu Annisa dari Gerindra, semacam kode keras tapi tetap sopan: “Bu, tolong dong perjuangin. Masa iya kami cuma dapet asapnya doang, duitnya enggak?”
“Kue”-nya Ada, Tapi Irisannya Tipis
Coba bayangin lo dateng ke kondangan, ngeliat kue tart segede kulkas dua pintu, dihias cantik, berlapis-lapis. Lo udah ngiler dari jauh. Tapi pas dapet giliran, potongan buat lo cuma segede jempol kaki. Ya… kesel dong.
Nah, kira-kira beginilah perasaan Pemkab Serang soal Dana Bagi Hasil (DBH) dari pemerintah pusat. Bupatinya, Ratu Rachmatuzakiyah, sempat ngeluh pas ngobrol sama anggota DPR RI dari Gerindra, Annisa Maharani Alzahra Mahesa. Intinya, Serang tuh udah nyumbang banyak — dari polusi visual sampe kontribusi ekonomi — tapi dapetnya dikit banget.
“Kalau misalnya kita dana bagi hasil itu mendapatkan sesuai dengan yang semestinya, insyaallah itu bakal menjadi pendapatan yang luar biasa bagi Pemerintah Kabupaten Serang,” kata Bu Bupati dengan nada yang kita semua tahu artinya: “tolong dong, ini nggak adil!”
Baca juga: Wisata Curug di Kabupaten Serang yang Bikin Kamu Lupa Masalah Hidup
Masalahnya, perusahaan di Kabupaten Serang nggak cuma satu dua. Dari Serang Timur sampai Serang Barat, banyak banget pabrik nangkring kayak rumah makan Padang di Jakarta. Tapi herannya, duit DBH-nya nggak sebanding sama suara genset yang tiap hari kerja rodi. Bu Bupati bilang, “Dana bagi hasilnya ada di pusat, maka jika itu didapatkan oleh kita, insya Allah itu bisa mendapatkan pendapatan yang luar biasa bagi Kabupaten Serang untuk pendapatan asli daerah.”
Alias, kue-nya sih ada. Tapi selama yang motong masih orang lain, ya jangan heran kalau Serang cuma kebagian remahannya.
Serang Penuh Pabrik, Tapi Dompet Tipis?
Kabupaten Serang tuh dari luar keliatan sibuk. Truk lalu-lalang, pabrik berdiri gagah dari ujung timur sampe barat, suara mesin nggak pernah libur. Sekilas kayak kota industri yang duitnya ngucur terus kayak keran bocor. Tapi ternyata, kas daerahnya lebih mirip galon kosong: keliatannya penuh, tapi pas diangkat enteng.
Anehnya, makin banyak pabrik berdiri, makin dikit yang nyangkut ke kantong Pemkab. Dana Bagi Hasil (DBH) yang seharusnya bisa jadi penyambung napas, malah masih nyangkut di pusat. Bu Bupati Serang, Ratu Rachmatuzakiyah sampai angkat suara, “Kalau dana bagi hasil itu didapatkan sesuai yang semestinya, insyaallah bakal jadi pendapatan luar biasa.”
Masalahnya, ‘yang semestinya’ itu sampai sekarang kayak mantan yang ghosting — nggak tau kabarnya, tapi masih diharap-harapin. Jadi ya, meski Serang keliatannya kaya karena dikelilingi industri, ternyata buat belanja daerah aja masih harus ngencengin ikat pinggang.
Baca juga: Kabupaten Serang Mau Ubah Sampah Jadi Listrik, Lahannya Masih Nego, Truknya 160
Surat Cinta dari Bupati buat Bu DPR
Kadang urusan negara tuh mirip kisah cinta sepihak. Kita udah berjuang, udah setia, tapi yang dicinta (baca: pusat) malah cuek bebek. Nah, Bupati Serang, Ratu Rachmatuzakiyah, kayaknya udah capek nunggu kode alam. Akhirnya, beliau putuskan untuk ngirim surat—bukan buat lamaran, tapi buat minta jatah Dana Bagi Hasil (DBH) yang layak.
Surat itu ditujukan ke Annisa Maharani Alzahra Mahesa, anggota DPR RI dari Partai Gerindra yang kebetulan satu dapil. Bu Bupati bilang, “Semoga nanti selesai dari sini kami juga akan bersurat ke Bu Annisa selaku anggota DPR RI, sehingga minta didukung untuk kementerian yang bersangkutan mengenai DBH, DAK, DAU.”
Kalimatnya sih diplomatis. Tapi vibes-nya? Udah kayak kode keras penuh harap. Semacam: “Bu, ini daerah banyak pabrik, tapi duitnya nyangkut terus. Masa iya kami terus-terusan kayak ngontrak di tanah sendiri?” Surat itu jadi semacam love letter dari daerah yang berharap cintanya berbalas… dalam bentuk transferan dana, tentu saja.
DBH, DAK, DAU… Singkatan Banyak, Duitnya Mana?
Negara kita tuh jago bikin singkatan. Mulai dari yang lucu kayak cemilan sehat anak sekolah sampe yang bikin pejabat garuk-garuk kepala: DBH, DAK, DAU. Kelihatannya keren, ya. Tapi buat daerah kayak Kabupaten Serang, singkatan-singkatan itu lebih mirip tebak-tebakan receh—nggak ada yang bener-bener jelas ujungnya ke mana.
Secara teori, Dana Bagi Hasil (DBH), Dana Alokasi Khusus (DAK), dan Dana Alokasi Umum (DAU) itu adalah cara pemerintah pusat bilang, “Tenang, kami nggak akan tinggalin kalian.” Tapi realitanya? Kadang kayak janji teman yang bilang OTW padahal masih di kamar mandi. Datangnya lama, jumlahnya juga suka nggak nyambung sama kondisi di lapangan.
Bupati Serang udah blak-blakan soal ini. Menurut beliau, semua dana itu harusnya dimaksimalkan. Artinya, jangan cuma diketik di laporan keuangan pusat yang tebelnya ngalahin buku utang warung, tapi beneran ditransfer ke daerah. Karena ya gimana, yang ngos-ngosan kan pemerintah daerah, bukan spreadsheet di Jakarta.
Jadi Kabupaten Serang Harus Nunggu Berapa Lama Lagi?
Kalau Kabupaten Serang — yang udah punya segudang pabrik, suara mesin nonstop, dan truk-truk gede yang bikin jalan retak tiap hari — aja masih susah dapet Dana Bagi Hasil yang pantas, terus daerah mana lagi yang harus teriak? Nunggu ada tambang emas di belakang kantor kecamatan?
Kadang kepikiran, apa suara daerah baru dianggap penting kalau udah viral di TikTok? Atau harus demo dulu sambil bawa toa dan spanduk tulisan tangan yang typo-nya dua halaman? Atau jangan-jangan… kita semua cuma lagi nonton sinetron panjang berjudul “Janji Dana Bagi Hasil: The Series”, lengkap dengan episode pengantar, cliffhanger, dan ending yang nggak pernah tayang-tayang.
Mungkin yang paling cepat dibagi sekarang bukan dananya, tapi rasa sabarnya. Serang cuma mau haknya balik, bukan minta bonus Lebaran.
Tulisan ini adalah esai ringan berbasis fakta nyata. Segala bumbu berlebihan atau skenario absurd di dalamnya bersifat fiktif dan dimaksudkan sebagai kritik sosial.
Kami juga menerima hak jawab dan koreksi berita sesuai dengan etika jurnalistik.